NUSAN.ID – Kota Bandar Lampung, Anggota DPR MPR RI Ir. H. Hanan A. Rozak, M.S melaksanakan Sosialisasi MPR RI yang diikuti oleh Pengurus Daerah Provinsi Lampung Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) dan Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) di Aula DPD Partai Golkar, pada Jumat (26/12/2025) pagi.
Menurut Hanan A Rozak, AMPG dan Pancasila tidak terpisahkan. Pancasila sebagai dasar negara adalah kompas ideologis, sementara AMPG adalah motor penggerak pemuda untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam praktik politik dan kehidupan sosial.
“AMPG menjadi pelopor politik santun dan beretika, menjadi agen internalisasi Pancasila di kalangan generasi muda serta aktif dalam edukasi demokrasi, literasi digital, dan anti-radikalisme, dan mengawal kepentingan pemuda dalam kebijakan publik,” kata Hanan.
Saat ini Narkoba juga menjadi momok yang merusak generasi muda. Hanan A Rozak menyampaikan bahwa Gerakan Anti Narkoba adalah wujud nyata pengamalan Pancasila.
“Dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar gerakan GRANAT, kita dapat melindungi generasi muda, menjaga martabat manusia, dan memperkuat ketahanan nasional, ” tegas Hanan.
Dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR tersebut Hanan A Rozak didampingi Ketua GRANAT Provinsi Lampung H. Tony Eka Candra, Ketua PD AMPG Provinsi Lampung Dr (Can) Darlian Pone, SH, MH dan Akademisi Rusfian, S.IP, M.IP.
Hanan A Rozak bersama para narasumber lainnya memaparkan dan menjelasakan sejarah lahirnya Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.
Dalam diskusi salah satu peserta bertanya apa strategi MPR untuk menginternalisasi Pancasila dimasyarakat dan generasi muda serta bagaimana cara mengukur keberhasilannya.
Menjawab pertanyaan tersebut Hanan A Rozak menjelaskan bahwa Internalisasi Pancasila, artinya menanamkan nilai-nilai Pancasila agar dipahami, diyakini, dan diwujudkan dalam sikap serta perilaku nyata.
Menurut Hanan, Strateginya meliputi; Pertama, Pendidikan dan PembelajaranIntegrasi nilai Pancasila dalam kurikulum formal (PAUD hingga perguruan tinggi). Kedua, Keteladanan Pemimpin dan Aparatur Negara
Pemimpin sebagai role model nilai keadilan, kejujuran, dan musyawarah.
Penyelenggaraan negara yang transparan dan berpihak pada rakyat.
Penegakan hukum yang adil dan konsisten.
Ketiga, Pembiasaan dalam Kehidupan Sehari-hari. Budaya gotong royong, toleransi, dan musyawarah di masyarakat.
Keempat, Sosialisasi dan Literasi Publik. Sosialisasi 4 Pilar MPR RI secara berkelanjutan. Pemanfaatan media sosial, film, konten digital, dan diskusi publik. Narasi Pancasila yang relevan dengan tantangan zaman (digitalisasi, globalisasi).
Kelima, Kebijakan dan Regulasi Berbasis Pancasila. Kebijakan publik yang mencerminkan keadilan sosial dan kemanusiaan. Penolakan terhadap ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Sinkronisasi pembangunan nasional dan daerah dengan nilai Pancasila.
Dan salah satu cara mengukur keberhasilan Internalisasi Pancasila dapat dilihat dari meningkatnya sikap toleransi, empati, dan solidaritas sosial, serta praktik musyawarah dan gotong royong yang hidup di masyarakat.
“Strategi internalisasi Pancasila harus dilakukan secara holistik: pendidikan, keteladanan, pembiasaan, sosialisasi, dan kebijakan. Keberhasilannya diukur bukan hanya dari pemahaman, tetapi dari perilaku nyata dan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkas Hanan.(*)


















