NUSAN.ID – Ketua Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), M. Abbas Umar, menyoroti dugaan terjadinya korupsi dan mark-up anggaran dalam program suntik kontrasepsi (KB) yang dilaksanakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Ogan Komering Ilir. Dugaan ini diungkapkan melalui informasi dari seorang sumber di lapangan yang menyatakan bahwa besarnya anggaran yang disediakan tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan di lapangan.
Menurut informasi yang diterima, anggaran untuk program suntik KB pada tahun 2024–2025 yang mencapai ratusan juta rupiah setiap tahunnya ternyata tidak sebanding dengan volume kerja dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Sumber yang minta tak disebutkan namanya menyampaikan bahwa terdapat indikasi bahwa sebagian besar anggaran yang digelontorkan tidak digunakan secara optimal untuk kepentingan program itu sendiri.
“Kami mendapatkan informasi bahwa ada kesenjangan yang cukup besar antara anggaran yang dikeluarkan dan pekerjaan yang dilakukan di lapangan. Hal ini membuat kami curiga bahwa terjadi praktik mark-up anggaran bahkan dugaan korupsi dalam pelaksanaan program ini,” ujar M. Abbas Umar.
Ia menjelaskan bahwa program KB merupakan salah satu program penting yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama terkait perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, penggunaan anggaran untuk program ini harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan transparansi.
“Anggaran yang berasal dari uang rakyat seharusnya digunakan untuk memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Jika ternyata ada praktik yang tidak benar dalam pengelolaannya, ini jelas merupakan pelanggaran yang tidak dapat diterima dan harus ditindaklanjuti,” tambahnya.
Publik berharap agar pihak Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Ogan Komering Ilir dapat segera memberikan penjelasan terkait dugaan yang muncul ini, serta pihak penegak hukum dan pengawas anggaran dapat melakukan penyelidikan yang mendalam untuk mengungkap kebenaran di balik informasi ini. (Tim/Red)


















