NUSAN.ID – Sebanyak 35 guru di Kabupaten Keerom sukses mengikuti pelatihan pembuatan Audio Comic berbasis etnografi Papua dengan memanfaatkan aplikasi Canva dan kecerdasan buatan (AI). Program ini digagas oleh tim dosen Universitas Cenderawasih yang diketuai oleh Suriyah Satar dosen program studi Pendidikan Biologi sebagai bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat yang di danai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui program BIMA Tahun 2025
Tujuan utama kegiatan ini adalah memberdayakan guru dalam mengembangkan media pembelajaran inovatif yang tidak hanya digital dan menarik, tetapi juga sarat dengan nilai budaya lokal Papua.
“Kami ingin siswa belajar sains dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Budaya Papua sangat kaya, dan itu bisa menjadi pintu masuk untuk memahami konsep IPA,” ujar ketua tim pengabdian.
Selama 5 kali pertemuan, para guru mendapatkan materi tentang cara mendesain komik digital menggunakan Canva, menulis naskah berbasis cerita rakyat Papua, hingga memanfaatkan AI untuk membuat ilustrasi dan narasi suara. Hasilnya, guru berhasil menciptakan beberapa audio comic dengan tema beragam mulai dari tradisi berburu, pengetahuan ekologi hutan, hingga teknologi tradisional Papua yang dikaitkan dengan topik IPA seperti ekosistem, energi, dan adaptasi makhluk hidup.
Program ini mendapat sambutan positif dari para guru dan siswa. Guru mengaku lebih percaya diri dalam menggunakan teknologi digital untuk mengajar, sementara siswa merasa lebih tertarik dan mudah memahami pelajaran IPA melalui media audio comic. “Anak-anak jauh lebih antusias. Mereka senang mendengar cerita Papua yang dikaitkan dengan pelajaran sains,” tutur salah satu guru peserta pelatihan.
Pelatihan ini juga diharapkan menjadi model inovasi pembelajaran di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Dengan dukungan komunitas MGMP IPA, media audio comic yang sudah dihasilkan akan terus dikembangkan dan dibagikan, baik secara daring maupun luring, agar bisa dimanfaatkan lebih luas oleh sekolah-sekolah lain di Papua.
Kegiatan ini membuktikan bahwa integrasi budaya lokal dan teknologi digital mampu melahirkan inovasi pendidikan yang tidak hanya meningkatkan kualitas belajar, tetapi juga memperkuat identitas budaya generasi muda Papua.(YAM)


















